Pages

Showing posts with label hidayah. Show all posts
Showing posts with label hidayah. Show all posts

Sebuah Pengakuan ex. Aktivis Militan Gereja


Mimpi ternyata bukan sekedar kembang tidur. Melalui mimpi, Anna Marcelina, mantan aktivis gereja dapat memilih jalan hidupnya yang hakiki. Ia beralih ke Islam meski menghadapi ancaman yang tak ringan.

Di sebuah aula, tempat pembinaan muallaf, Anna Marcelina akhirnya bersedia diwawancarai Amanah, padahal sebelumnya ia sempat mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya dari ancaman orang yang tidak senang dengan perpindahan agamanya ke Islam. Maklum, Anna baru setahun menjadi seorang muallaf. Terlebih, ia dulunya sempat menjadi seorang aktivis gereja yang tergolong fanatik dan militan. Ia sudah mengkristenkan beberapa Muslim. Kini ia merasa berdosa, dan ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan jalan bertaubat kepada Allah yang Maha Pengasih. Berikut penuturan Anna di kediamannya di bilangan Kampung Bugis, Jakarta Utara

Saya anak kelima dari tujuh bersaudara, iahir daiam keluarga Kristen (Protestan) yang tergolong fanatik. Semula mama saya seorang Muslimah, tapi kemudian masuk Kristen karena desakan ekonomi. Mama lebih mengorbankan akidahnya ketimbang harus berpisah dengan ayah.

Yang saya ketahui tentang keluarga mama hingga saat ini, mereka masih mempertahankan agama Islam, hanya mama saja yang tergoda pindah agama menjadi Kristiani, mengikuti ayah.

Setelah ayah meninggal dunia, mama saya kurang menjalani agamanya yang baru sebagai Kristiani. Suatu ketika, saya menegur, kenapa mama tak pernah berdoa dan ikut kebaktian. Tapi teguran saya itu tak digubris oleh mama.

Seiring perjalanan waktu, saya menikah dengan seorang laki-laki Muslim. Sebagai istri, saya bertekad untuk tetap mempertahankan iman Kristiani saya. Dan suami saya pun tetap pada akidah Islamnya. Meski berbeda akidah, saya tetap menghormati suami, begitu pula suami saya tidak memaksa saya pindah agama. Saya tahu, daiam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Bagiku agamaku bagimu agamamu. Prinsip itu diikuuti oleh suami saya.

Memang dulu, saya menikah dengan cara Islam. Tapi saya tidak menjadikan itu sebagai jalan untuk menjadi seorang Musilmah. Selama mengarungi rumah tangga yang baru seumur jagung, suami saya banyak membimbing saya dengan kesabaran dan kelembutan. Padahal, jujur saja, saya sempat 'berpikir untuk mengkristen dia, termasuk mengkristenkan saudara ibu saya. Tapi pikiran itu selaiu gagal untuk diwujudkan.

Sebelum menikah, saya adalah seorang aktivis gereja di Bandung. Boleh dibiiang, saya bukan sekadar penganut Kristen biasa. Saya tergolong seorang yang militan kata teman-teman di gereja saya punya kharisma. Entahlah. Yang jelas, saya sering mengajak dan menyampaikan kebenaran Kristen. Bahkan ketika saya masih kuliah, saya sempat mendirikan persekutuan doa dan kebaktian di kampus. Padahai sebelumnya tak pernah ada kegiatan kerohanian Kristen.

Lebih dari itu, saya bahkan pernah mengkristenkan dua orang Muslim, yang kebetulan dari golongan yang kurang educated. Tanpa melalui diskusi atau debat, cukup saya memberi pengertian tentang ajaran kaslh terhadap sesama. Dengan kata lain, saya menggunakan cara-cara yang halus dan lebih menggunakan pendekatan yang simpatik. Berbeda dengan lapisan masyarakat yang educated, mereka harus dihadapi melalui perdebatan lebih dulu. Alhasil saya dapat merangkul beberapa Muslim lainnya.

Dalam dakwah Kristen dikenal istilah “Jadilah penjala ikan." Ikan itu adalah manusia, dan kitalah yang menjalanya. Ketika, sudah menjadikan diri sebagai penjaia ikan, maka harus ada follow-upnya. Sebagai penjala ikan, saya belum sampai menggunakan uang atau materi untuk mengajak mereka yang Muslim. Saya hanya menggunakan pendekatan yang lebih persuasif.

Lagipula, saya bukanlah seorang missionaris. Saya hanya jadi pengikut saya. Artinya, saya memang beium menjadi seorang misionaris dalam pengertian sesungguhnya, yang menyampaikan ajaran Kasih Kristus ke penjuru dunia, mulai dari kota hingga daerah terpencil. Sejauh itu, saya hanya menyampaikan firman Allah, dan mengajarkan nyanyian puji-pujian saja.

Mimpi Mendengar La Ilaha Illallah

Asli, sejak saya Iahir, saya tidak pernah mengenal apalagi mencari tahu tentang Islam. Meskipun mama saya awalnya Muslimah, saya tak ingin menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Itu, mungkin, karena saya seorang Kristen fanatik.

Lalu, apa yang membuat saya ingin memeluk Islam? Kedengarannya sepele, Suatu malam saya bermimpi dikelilingi oleh ibu-ibu berbusana Muslim - mengenakan jilbab putih bersih dan menggenggam tasbih seraya melafazkan La Ilaha Illallah. Gemuruh suara itu membuat hati saya bergetar dan membuat saya terisak-isak. Saat terbangun, saya pun bertanya-tanya tentang takwil mimpi saya semalam, terutama kalimat La Ilaha Illallah. Setelah saya mencari tahu, ternyata saya baru memahami, bahwa kalimat tauhid itu bermakna Tiada Tuhan Selain Allah.

Entah kenapa. saya yang dikenal sebagai seorang Kristiani yang fanatik, merasa yakin bahwa mimpi itu bukan sembarang mimpi atau bukan sekadar kembang tidur. Anehnya, saya langsung percaya. Dalam hati kecil saya, ini seperti petunjuk dan jalan terang bagi saya.

Kalau ditanya, kenapa saya langsung percaya? Karena memang, saya selalu meyakini setiap mimpi sebagai firasat dan petunjuk dari Yang Kuasa. Boleh dibiiang, saya punya kelebihan untuk menjadikan mimpi saya sebagai petunjuk. Sebelumnya, pernah saya bermimpi adik saya sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Anehnya, mimpi saya itu selalu menjadi kenyataan. Waktunya pun berlangsung cepat Maiamnya bermimpi, esoknya betul-betul terjadi. Bahkan jauh sebeiumya, saya pernah bermimpi saudara saya meninggal, esok harinya benar-benar terjadi. Umumnya, seseorang yang bermimpi sekitar pukul 2.00 pagi hingga menjelang Subuh, biasanya akan menjadi kenyataan. Karena pada saat itu, bukan sekedar mimpi tapi sebuah firasat yang sangat kuat.

Setelah mimpi yang pertama, kegelisahan saya semakin bertambah ketika saya mendengar adzan Subuh berkumandang. Saya merasakan keanehan. Setiap kail saya mendengar adzan Subuh, pasti saya terbangun dan tidur saya. Padahal, sebelumnya saya selalu bangun agak siang, saat matahari mulai meninggi.

Untuk-kedua kalinya, saya lagi-lagi bermimpi, seseorang berlutut (bersujud) dengan mengenakan sorban putih. Kemudian orang itu berdoa: "Semoga kamu meraih kebahagiaan di dunia yang sekarang dan kebahagiaan di akhirat kelak."

Setelah mimpi berturut-turut, saya tak kuat menyimpannya sendiri. Saya menceritakannya kepada suami saya. Suami saya agak surprise dan mendengarnya dengan penuh perhatian. Akhirnya, tahun 2004, saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya diislamkan dr sebuah pulau terpencil di luar Jawa. Sejak saya menjadi Muslimah, saya berganti nama menjadi Siti Masitoh.

Saya teringat, ketika pertama kali shalat, hati saya terasa bergetar. Apalagi jika ayat-ayat Tuhan diperdengarkan, hati saya pun semakin bertambah bergetar. Masa transisi dari Kristen menuju Islam, saya rasakan ujian yang sangat berat Di samping berpisah dengan keluarga, silaturahim terputus, saya juga mendapat kesulitan ekonomi. Hingga suatu malam, saya memohon dan bermunajat kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan menguatkan kesabaran saya. Alhasil, doa saya langsung dijawab Allah, betul-betul instan. Sebagai seorang guru, saya belum menerima gaji bulan. Padahal, uang saya ketika itu tinggal Rp. 15,000, sementara tanggal 30 masih jauh. Mengandalkan suami, tentu tidak mungkin, mengingat suami saya berprofesi sebagai wiraswasta kecil-kecilan.

Begitu saya shalat Tahajud dan bermunajat kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tanpa diduga saya menerima telepon dari teman segereja saya dulu yang sedang berada di Arab Saudi untuk mentransfer uang sebesar Rp 1 juta. Saat itu, saya bertambah yakin, Allah sungguh Maha Hidup. Dia tahu kegelisahan dan penderitaan hambaNya. Padahai kawan saya itu belum tahu, bahwa saya sudah menjadi seorang Muslimah.

Pasrah pada Allah

Setahun berjalan menjadi Muslimah, saya sering mengenang dosa-dosa yang telah saya perbuat di masa lalu. Dalam kesendirian, di tengah malam yang sunyi, jiwa saya merintih, air mata ini tak mampu lagi saya bendung. Sedih, kalau saya ingat bahwa saya dulu bukan orang baik, apalagi sempat mengkristen beberapa orang Islam. Ingin sekali, saya menebus dosa-dosa saya, meski saya harus memulai hidup ini dari nol lagi. Apa pun yang terjadi, saya serahkan seluruh hidup saya kepada Allah. Saya hanya ingin mendapat ampunan dan ridhaNya.

Terakhir, saya ingat, saya sempat pamit pada ibu saya. Terus terang, hanya ibu yang tahu dengan keislaman saya. Sementara saudara-saudara saya yang lain belum mengetahui. Sejak saya menikah, hubungan saya dengan saudara-saudara yang lain terputus. Saya memang berusaha menyembunyikan keislaman saya. Saya khawatir dengan keselamatan diri saya dan keluarga saya. Karena saya tahu, keluarga dari pihak kakak-kakak saya adalah orang-orang keras. Mereka tidak segan-segan mendecerai saya, kalau tahu saya memeluk Islam. Tapi, bagi saya, kebenaran itu harus diungkapkan, jangan disembunyikan. Hanya Allah Ian, sebaik-baik Pelindung.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah masuk Islam. Selain rasa ketenangan, saya juga menilai Islam adalah agama yang mengutamakan disiplin. Setiap saya bangun malam untuk shaiat Tahajud, saya merasa dekat dengan Tuhan. Terlebih, saat Subuh, saya selalu berjamaah dengan suami. Kemantapan iman saya semakin kokoh, ketika saya mengikuti workshop ESQ pimpinan Ary Ginanjar. Dengan pelatihan itu, iman saya seperti di-ces kembali. (amanahonline)

Dr. Abdul Karim Germanus (Guru Besar Orientalis Asal Hongaria)


al-islahonline.com : Dr. Abdul Karim Germanus adalah seorang terkenal dari Honggaria, dan orientalis saintis terkenal di dunia. Beliau datang di India antara perang dunia pertama dan kedua dan beberapa waktu lamanya memberi kuliah di Tagor’s University Shanty Naketan. Akhirnya beliau memberi kuliah pada Jamia Millie Delhi dan disanalah beliau masuk Islam. Dr. Abdul Karim Germanus juga seorang ahli bahasa dan mengusai bahasa tueki dan kesusteraanya. Melalui penyelidikan-penyelidikan ketimurannya itulah beliau akhirnya masuk Islam. Dr. Abdul Karim Germanus juga bekerja sebagai professor dan kepala bagian ketimuran dan ilmu-ilmu keislaman pada Budapest University, Honggaria.

Gambaritu telah menangkap daya khayal saya, karena keadaanya berbeda dengan yang biasa kita lihat di Eropa, sebuah pemandangan di tanah timur, di sebuah tempat di negeri Arab yang menggambarkan seseorang yang sedang menceritakan beberapa hikayat yang menarik bagi sekumpulan pendengar yang mengenakan jubah berkurudung. Gambar itu seakan-akan berbicara, hingga saya seakan-akan mendengar suara seorang laki-laki yang menghibur diri saya dengan ceritanya, dan saya seakan-akan termasuk salah seorang dari orang Arab yang mendengarkan di atas bangunan itu. Padahal saya pelajar yang belum melebihi umur16 tahun dan sedang duduk diatas kursi Honggaria. Saya sangat berhasrat untuk mengetahui arti cahaya yang memecah kegelapan di atas papan ukiran itu.

Mulailah saya belajar belajar bahasa Turki. Namun, ternyata bahasa Turki tertulis itu hanya mencakup sedikit kata-kata Turki. Syair Turki penuh dengan bunga-bunga bahasa Parsi, sedangkan prosesnya terdiri dari unsur bahasa Arab. Oleh karena itu, saya berusaha memahami ketiga bahasa itu sehingga saya mampu menyelami dunia kerohanian yang telah memancarkan cahaya yang gemerlapan di atas persada alam kemanusiaan.

Pada waktu liburan musim panas, saya pergi ke Bosnia, suatu negeri Timur yag terdekat dari negeri saya. Saya tinggal di sebuah hotel. Dari sana saya dapat pergi untuk menyaksikan kenyataan hidup kaum muslimin di negeri itu. Bahasa Turki mereka menyulitkan saya, karena saya mulai mengetahuinya dari celah-celah tulisan Arab dalam kitab-kitab ilmu nahwu(Grammar).

Pada suatu malam, saya turun ke jalan-jalan yang diterangi lampu remang- remang. Saya lalu sampai di sebuah warung kopi sederhana, di mana dua orang pribumi sedang duduk-duduk di atas kursi yang agak tinggi sambil memegang kayf. Kedua orang itu mengenakan celana adat yang agak lebar dan di tengahnya diikat dengan sebuah sabuk lebar yang diselipi sebuah golok, sehingga dengan pakaian yang aneh seperti itu mereka tampak galak dan kasar. Dengan hati yang berdebar-debar saya masuk di dalam “Kahwekhame” itu dan duduk bersandar dalam si sudut ruangan. Kedua orang itu melihat kepada saya dengan pandangan yang aneh. Ketika itu terlihatlah kepada saya cerita-cerita pertumpahan darah yanga saya baca dalam buku yang berisi kefanatikan kaum muslimin. Mereka berbisik-bisik, dan apa yang mereka bisikkan itu, jelas tentang kehadiran saya yang mungkin tidak mereka inginkan. Bayangan kekanak-kanakan saya menunjukkan akan terjadinya tindakan kekerasan, kedua orang itu pasti akan menancapkan goloknya ke dada saya yang kafir ini. Kalau bisa saya ingin keluar dari tempat ini dan bebas dari ketakutan, akan tetapi badan saya menjadi lemas dan tidak bisa bergerak.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayang datang dan menghidangkan secangkir kopi yang harum sambil menoleh kepada kedua orang yang menakutkan itu. Saya pun menoleh kepada mereka dengan muka ketakutan, akan tetapi ternyata mereka mengucapakan salam kepada saya dengan suara yang ramah sambil tersenyum tipis. Dengan sikap yang ragu-ragu saya mencoba berpura-pura tersenyum, dan kedua orang “musuh”itu pun berdiri mendekati saya, sehingga jantung saya berdebar lebih keras, membayangkan kemungkinan orang-orang itu akan mengusir saya, akan tetapi ternyata kedua orang itu mengucapkan salam kepada saya kedua kalinya, dan mereka duduk didekat saya. Seorang diantaranya menyodorkan rokok kepada saya dan sekalian menyulutkannya, ternyata dibalik sisi lahirnya yang kasar dan menakutkan itu terdapat jiwa yang mulia. Saya mengumpulkan kembali keberanian saya dan saya bercerita kepada mereka dengan bahasa Turki yang patah-patah, kata-kata saya itu ternyata menarik perhatian mereka dan tampak dalam kehidupan mereka jiwa persahabatan dan cinta kasih. Kedua orang itu mengundang saya agar berkunjung ke rumah mereka, kebalikan dari permusuhan yang saya duga semula. Mereka menunjukkan kasih sayang kepada saya kebalikan dari menancapkan golok di dada saya yang saya bayangkan semula.

Itulah perjumpan saya yang pertama dengan kaum muslimin.

Beberapa tahun telah lewat dalam hidup saya yang penuh dengan perjalanan dan studi. Semua itu membuka mata saya kearah pandangan baru yang menakjubkan .

Saya berkunjung ke semua negeri di Eropa mengikuti kuliah di Universitas Istambul, menikmati keindahan bersejarah Asia kecil dan Syiria, belajar bahasa Turki, Persia dan Arab serta mengikuti kuliah dan ilmu ilmu keislaman Universitas Budapest. Segala ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam buku-buku abad lampau saya baca dengan pandangan kritis, dan jiwa yang kehausan. Pada buku-buku itu saya menemukan titik-titik terang tentang berbagai lapangan ilmu pengetahuan. Saya merasakan kenikmatan bernaung di bawah kehidupan beragama. Otak saya menjadi beku, akan tetapi jiwa saya tetap kehausan. Karena itu saya mencoba melepaskan diri dari segala ilmu pengetahuan yang selama ini saya kumpulkan, agar saya dapat kembali bebas dari segala kotoran dalam semangat mencari kebenaran. Bagaikan besi mentah yang menjadi baja yang keras dengan cara dilebur dan diberi temperatur rendah secara tiba-tiba.

Pada suatu malam saya bermimpi, seakan-akan Muhammad Rasulullah saw.dengan jenggotnya yang panjang berwarna henna, jubahnya yang besar dan rapi menyebarkan bau wangi harum dan semerbak dan cahaya kedua belah matanya mengkilat penuh wibawa itu tertuju kepada saya. Dengan suara lemah lembut, beliau bertanya kepada saya,”Kenapa engkau bingung? Sebenarnya jalan yang lurus telah terbentang dihadapanmu, amat terbentang bagaikan permukaan bumi. Berjalanlah diatasnya dengan langkah yang mantap dan dengan kekuatan iman.”

Dalam mimpi ajaib ini, saya menjawab dengan bahasa arab, “Ya Rasulullah! Memang itu mudah buat Tuan, Tuan adalah perkasa. Tuan dapat menundukkan setiap lawan pada waktu Tuan memulai perjalanan Tuan dengan bimbingan dan pertolongan Allah. Bagi saya tetap sulit. Siapakah yang tahu kapan saya dapat menemukan ketenangan?”

Beliau menatap tajam kepada saya dengan penuh pengertian. Sejenak beliau berfikir, kemudian bersabda dengan bahasa Arab yang jelas, yang setiap katanya berdentang bagai suara lonceng perak. Dengan lisannya yang mulia yang mengemban perintah Allah itu meresap kedalam jiwa saya, beliau membacakan ayat ke-6 sampai dengan ke-9 surat An Naba’ yang artinya “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”

Dalam kepeningan, saya berkata, “Saya tidak bisa tidur. Saya mampu menembus segala misteri yang meliputi segala rahasia yang tebal ini. Tolonglah saya Muhammad! Tolonglah saya Rasulullah!” Begitulah yang keluar dari kerongkongan saya, suara teriakan yang terputus-putus, seakan-akan saya tercekik dengan beban yang berat ini. Saya takut kalau Rasulullah saw. marah kepada saya. Kemudian saya merasa terjatuh kesebuah tempat yang amat dalam. Tiba-tiba terbangunlah saya dari mimpi itu dengan badan bercucuran keringat yang hampir-hampir bercampur darah. Seluruh anggota badan terasa sakit. Saya menjadi sangat sedih dan suka menyendiri.

Pada hari Jumat berikutnya terjadilah sebuah peristiwa besar dalam masjid Jami’ New Delhi. Seorang asing berwajah lesu dan rambut beruban menerobos masuk disertai beberapa orang pemuda di antara jemaah yang beriman. Saya mengenakan pakaian India dan berkopiah rampuri, sedangkan di dada saya tertampang medali-medali Turki yang telah dianugerahkan oleh para sultan Turki terdahulu kepada saya. Kaum muslimin dalam masjid itu melihat saya dengan keheranan. Rombongan saya mengambil tempat di dekat mimbar, tempat para ulama dan para terkemuka duduk. Mereka mengucapkan salam kepada saya dengan suara yang tinggi melengking.

Saya duduk didekat mimbar yang penuh perhiasan, sedangkan tiang-tiang di dekat masjid penuh dengan sarang laba-laba. Terdengarlah suara azan dan para mukabbir berdiri di berbagai tempat untuk meneruskan suara azan ketempat sejauh yang mungkin dicapainya. Selesai adzan, berdirilah orang-orang yang jumlahnya hampir empat ribu untuk salat, sekan akan barisan tentara memenuhi seruan Allah dengan berjajar rapat, tekun dan khusuk. Saya sendiri termasuk salah seorang yang khusuk itu. Kejadian itu sungguh merupakan momentum yang agung.

Selesai salat, Abdul Hay memegang tangan saya untuk berdiri di muka mimbar. Saya berjalan hati-hati agar tidak menyentuh orang yang duduk berbaris. Waktu peristiwa besar sudah dekat. Saya berdiri dekat mimbar lalu berjalan di antara orang banyak yang saya lihat berupa beribu-ribu kepala bersorban, seakan-akan kebun bunga. Mereka melihat dengan penuh perhatian kepada saya. Saya berdiri dikelilingi para ulama dengan jenggot yang kelabu dan penglihatan yang memberi kekuatan. Lalu mereka mengumumkan tentang diri saya, satu hal yang tidak dijanjikan sebelumnya. Tanpa ragu-ragu saya naik ke mimbar sampai tangga yang ke tujuh, lalu saya menghadap kepada orang banyak yang seakan-akan tidak ada ujungnya dan seperti lautan yang berombak. Semua punduk merunduk kepada saya, di halaman masjid semua orang bergerak. Saya mendengar orang yang dekat kepada saya berkali-kali mengucapkan maasya Allah disertai pandangan yang memancarkan rasa cinta kasih. Kemudian mulailah saya berbicara dalam bahasa Arab.

“Tuan-tuan yang terhormat, saya datang dari negeri yang jauh untuk mencari ilmu yang tidak bisa didapat di negeri saya, saya datang untuk memenuhi hasrat jiwa saya dan tuan-tuan telah mengabulkan harapan saya itu.”

Lalu saya berbicara tentang peredaran zaman yang dialami oleh Islam dalam sejarah dunia dan tentang beberapa mukjizat yang Allah gunakan untuk memperkuat Rasul-Nya saw.. Saya juga kemukakan tentang keterbelakangan kaum muslimin pada zaman akhir-akhir ini, tentang cara-cara yang mungkin bisa mengembalikan kebesaran yang telah hilang dan tentang adanya sebagian orang Islam yang mengatakan bahwa segala sesuatu sepenuhnya tergantung kepada kehendak Allah SWT, padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’anul karim, “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sehingga mereka sendiri mau mengubah keadaan dirinya.”

Saya memusatkan pembicaraan saya kepada persoalan ini dengan mengemukakan ayat-ayat kitabullah. Kemudian tentang peningkatan hidup yang sici atau taqwa dan perlunya memerangi perbuatan dosa.

Seusai berbicara, saya pun duduk istirahat. Saya berbicara dengan penuh perasaan, dan saya dengar orang-orang di seluruh pelosok masjid berteriak “Allahu Akbar!!!” Terasalah pengaruh dan semangatnya yang merata ke seluruh tempat, dan saya tidak bisa mengingat-ingat lagi apa yang kemudian terjadi, selain di atas mimbar, Aslam memanggil dan memegang pergelangan tangan saya keluar dari masjid.

Saya bertanya kepadanya, “Mengapa terburu-buru?” Orang-orang berdiri dan memeluk saya. Berapa banyak orang miskin yang melihat dengan mata sayu kepada saya, meminta doa restu dan mereka ingin dapat mencium kepala saya. Saya berseru kapada Allah supaya tidak membiarkan jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini melihat kepada saya seakan -akan saya berderajat lebih tinggi daripada mereka. Padahal saya tidak lebih dari salah satu binatang yang melata di bumi, atau seorang yang lain. Saya merasa malu menghadapi harapan orang- orang suci itu, dan saya merasa seakan-akan telah menipu mereka. Alangkah beratnya beban yang menupuk pada bahu penguasa dan sultan. Orang yang menaruh kepercayaan dan minta pertolongan kepadanya dengan perkiraan bahwa penguasa itu dapat mengerjakan apa yang mereka sendiri tidak mampu.

Aslam mengeluarkan saya dari kerumunan dan pelukan saudara-saudara saya yang baru, dan mendudukkan saya pada sebuah tonga (kendaraan roda dua di India) dan membawa saya pulang. Pada hari-hari berikutnya, orang berbondong-bondong menemui saya untuk menunjukkan suka cita, dan saya merasakan kecintaan dan kebaikan mereka cukup menjadi bekal selama hidup saya.

Sumber: Limaa Dzaa Aslamnaa? Rabithah Alam Islamy Makkah al-Mukarramah
(Buku Limaa Dzaa Aslamnaa? oleh Rabithah Alam Islamy Makkah al-Mukarramah telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Cahaya Press, Jln. F, No. 46, Cip. Muara, Kalimalang, telp. (021)8580649, Fax. (021)85909667, Jakarta Timur 13420, PO BOX 7837 JAT CC 13340, dengan judul Islam Pilihan Kami: Kisah Para Tokoh dan Ilmuwan Dunia Mendapat Hidayah)

Kisah Menarik Bocah Amerika Masuk Islam


Rasulullah saw bersabda:
”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”
Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”
Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”
Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.
Wartawan bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”
Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.
”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?”
tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.
Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”
Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?”
tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?”
tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”
“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”
”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”
”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”
Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

Mualaf Steven Longden Kaget Temukan Fakta: Kakek Buyutnya adalah Walikota Muslim Pertama


MANCHESTER - Seperti banyak orang, Steven Longden mengaku identitasnya beragam, baik dalam keluarga, lingkungan, daerah, afiliasi keagamaan, pendidikan, dan hingga etnis. Namun ia kini mengaku bahagia, karena ia kini memiliki "kacamata" untuk memandangnya: keimanannya. "Budaya Islam memainkan peran penting dalam kehidupan saya sekarang," katanya.

Menjadi eksklusif? Steven menggeleng. "Iman saya tidak mengharuskan saya untuk menghindari yang terbaik dari pengaruh budaya lain yang penting dalam hidup saya. Jadi, sebagai seorang mantan Kristen saya dapat bersukacita dalam persahabatan yang saya buat pada tahun-tahun sebelum saya menjadi Muslim," katanya.

Bahkan, ia masih datang ke gereja untuk acara-acara non-agama: pernikahan, merayakan pembaptisan anak seorang kenalan, berpidato saat pelepasan jenazah neneknya yang meninggal. "Saya diterima, dihargai sebagai Muslim, diakui sebagai orang beriman dalam Tuhan," katanya.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan belajar bahwa mualaf kerap efektif menjembatani kesenjangan antara teman dan komunitas agama yang berbeda. "Banyak dari kita telah mengembangkan wawasan multikultural dan empati lah yang membantu untuk membawa pemahaman dan kepercayaan antara orang-orang di sekitar kita," katanya.

Ia betul-betul lahir dalam keluarga multilatar belakang. Ia berdarah Inggris, tapi besar di Afrika Timur. Sehari-hari, ia berbahasa Urdu, Swahili, dan Inggris.

Melanjutkan pendidikan ke Inggris, ia menikah dengan gadis kulit putih kelahiran Manchester.

Perjalanan spiritual lah yang menyebabkan pasangan muda ini mengenal Islam. Lama mempelajari, ia yakin Islamlah yang dicarinya. Ia bersyahadat. beruntung, keluarga besarnya mendukung, walau mereka tetap pada keyakinan mereka.

Ia mengakui, menjadi seorang Muslim tidak mudah. "Tapi Alquran memang menyebut, setiap kita pasti akan diuji," katanya.

Ia bukan tak merasakan dampak serangan 11 September yang membuat kaum Muslim menjadi bulan-bulanan di seluruh dunia. Namun ia menjalani dengan sabar. "Tapi di luar itu, setelah menganut islam saya merasakan kedamaian, terpesona dan sadar bahwa sebagai seorang Muslim di Inggris, saya merasa sebagai orang paling istimewa di dunia saat ini," katanya.

Lebih bahagia lagi, katanya, saat suatu hari sang ayah memberitahunya, kakek buyutnya adalah seorang Muslim, 92 tahun lalu. Ia menjadi Muslim pada tahun 1898, tepat pada usia 70 tahun. Ia bernama Robert Reschid Longden, kulit putih generasi pertama yang menganut Islam.

Dibesarkan dalam sekte Israel Kristen, dia naik menjadi Walikota Stalybridge pada tahun 1875. Pada 1850 dia menjadi tertarik pada urusan Kekaisaran Ottoman, yang tidak diragukan lagi, membimbingnya di jalan menuju Islam. Pada 1901 ia menjadi tangan kanan mufti Inggris, Syaikh Abdullah Quilliam, dan terlibat dalam beberapa dialog antaragama pertama di Manchester.

"Penemuan ini mengejutkan dan menempatkan konversi saya ke dalam perspektif dan telah telah menjadi sumber kebanggaan dan kenyamanan bagi keluarga saya, baik Muslim dan non-Muslim, dan masyarakat yang lebih luas. Memang, tidak akan menjadi kejutan bagi Anda, tapi ini sesuatu yang luar biasa bagi saya," ujarnya. Ada nada haru dalam ucapannya...

Sumber: being.publicradio.org, Republika