Pages

Showing posts with label kisah mualaf. Show all posts
Showing posts with label kisah mualaf. Show all posts

Sebuah Pengakuan ex. Aktivis Militan Gereja


Mimpi ternyata bukan sekedar kembang tidur. Melalui mimpi, Anna Marcelina, mantan aktivis gereja dapat memilih jalan hidupnya yang hakiki. Ia beralih ke Islam meski menghadapi ancaman yang tak ringan.

Di sebuah aula, tempat pembinaan muallaf, Anna Marcelina akhirnya bersedia diwawancarai Amanah, padahal sebelumnya ia sempat mengkhawatirkan keselamatan diri dan keluarganya dari ancaman orang yang tidak senang dengan perpindahan agamanya ke Islam. Maklum, Anna baru setahun menjadi seorang muallaf. Terlebih, ia dulunya sempat menjadi seorang aktivis gereja yang tergolong fanatik dan militan. Ia sudah mengkristenkan beberapa Muslim. Kini ia merasa berdosa, dan ingin menebus kesalahannya di masa lalu dengan jalan bertaubat kepada Allah yang Maha Pengasih. Berikut penuturan Anna di kediamannya di bilangan Kampung Bugis, Jakarta Utara

Saya anak kelima dari tujuh bersaudara, iahir daiam keluarga Kristen (Protestan) yang tergolong fanatik. Semula mama saya seorang Muslimah, tapi kemudian masuk Kristen karena desakan ekonomi. Mama lebih mengorbankan akidahnya ketimbang harus berpisah dengan ayah.

Yang saya ketahui tentang keluarga mama hingga saat ini, mereka masih mempertahankan agama Islam, hanya mama saja yang tergoda pindah agama menjadi Kristiani, mengikuti ayah.

Setelah ayah meninggal dunia, mama saya kurang menjalani agamanya yang baru sebagai Kristiani. Suatu ketika, saya menegur, kenapa mama tak pernah berdoa dan ikut kebaktian. Tapi teguran saya itu tak digubris oleh mama.

Seiring perjalanan waktu, saya menikah dengan seorang laki-laki Muslim. Sebagai istri, saya bertekad untuk tetap mempertahankan iman Kristiani saya. Dan suami saya pun tetap pada akidah Islamnya. Meski berbeda akidah, saya tetap menghormati suami, begitu pula suami saya tidak memaksa saya pindah agama. Saya tahu, daiam Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Bagiku agamaku bagimu agamamu. Prinsip itu diikuuti oleh suami saya.

Memang dulu, saya menikah dengan cara Islam. Tapi saya tidak menjadikan itu sebagai jalan untuk menjadi seorang Musilmah. Selama mengarungi rumah tangga yang baru seumur jagung, suami saya banyak membimbing saya dengan kesabaran dan kelembutan. Padahal, jujur saja, saya sempat 'berpikir untuk mengkristen dia, termasuk mengkristenkan saudara ibu saya. Tapi pikiran itu selaiu gagal untuk diwujudkan.

Sebelum menikah, saya adalah seorang aktivis gereja di Bandung. Boleh dibiiang, saya bukan sekadar penganut Kristen biasa. Saya tergolong seorang yang militan kata teman-teman di gereja saya punya kharisma. Entahlah. Yang jelas, saya sering mengajak dan menyampaikan kebenaran Kristen. Bahkan ketika saya masih kuliah, saya sempat mendirikan persekutuan doa dan kebaktian di kampus. Padahai sebelumnya tak pernah ada kegiatan kerohanian Kristen.

Lebih dari itu, saya bahkan pernah mengkristenkan dua orang Muslim, yang kebetulan dari golongan yang kurang educated. Tanpa melalui diskusi atau debat, cukup saya memberi pengertian tentang ajaran kaslh terhadap sesama. Dengan kata lain, saya menggunakan cara-cara yang halus dan lebih menggunakan pendekatan yang simpatik. Berbeda dengan lapisan masyarakat yang educated, mereka harus dihadapi melalui perdebatan lebih dulu. Alhasil saya dapat merangkul beberapa Muslim lainnya.

Dalam dakwah Kristen dikenal istilah “Jadilah penjala ikan." Ikan itu adalah manusia, dan kitalah yang menjalanya. Ketika, sudah menjadikan diri sebagai penjaia ikan, maka harus ada follow-upnya. Sebagai penjala ikan, saya belum sampai menggunakan uang atau materi untuk mengajak mereka yang Muslim. Saya hanya menggunakan pendekatan yang lebih persuasif.

Lagipula, saya bukanlah seorang missionaris. Saya hanya jadi pengikut saya. Artinya, saya memang beium menjadi seorang misionaris dalam pengertian sesungguhnya, yang menyampaikan ajaran Kasih Kristus ke penjuru dunia, mulai dari kota hingga daerah terpencil. Sejauh itu, saya hanya menyampaikan firman Allah, dan mengajarkan nyanyian puji-pujian saja.

Mimpi Mendengar La Ilaha Illallah

Asli, sejak saya Iahir, saya tidak pernah mengenal apalagi mencari tahu tentang Islam. Meskipun mama saya awalnya Muslimah, saya tak ingin menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan Islam. Itu, mungkin, karena saya seorang Kristen fanatik.

Lalu, apa yang membuat saya ingin memeluk Islam? Kedengarannya sepele, Suatu malam saya bermimpi dikelilingi oleh ibu-ibu berbusana Muslim - mengenakan jilbab putih bersih dan menggenggam tasbih seraya melafazkan La Ilaha Illallah. Gemuruh suara itu membuat hati saya bergetar dan membuat saya terisak-isak. Saat terbangun, saya pun bertanya-tanya tentang takwil mimpi saya semalam, terutama kalimat La Ilaha Illallah. Setelah saya mencari tahu, ternyata saya baru memahami, bahwa kalimat tauhid itu bermakna Tiada Tuhan Selain Allah.

Entah kenapa. saya yang dikenal sebagai seorang Kristiani yang fanatik, merasa yakin bahwa mimpi itu bukan sembarang mimpi atau bukan sekadar kembang tidur. Anehnya, saya langsung percaya. Dalam hati kecil saya, ini seperti petunjuk dan jalan terang bagi saya.

Kalau ditanya, kenapa saya langsung percaya? Karena memang, saya selalu meyakini setiap mimpi sebagai firasat dan petunjuk dari Yang Kuasa. Boleh dibiiang, saya punya kelebihan untuk menjadikan mimpi saya sebagai petunjuk. Sebelumnya, pernah saya bermimpi adik saya sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta. Anehnya, mimpi saya itu selalu menjadi kenyataan. Waktunya pun berlangsung cepat Maiamnya bermimpi, esoknya betul-betul terjadi. Bahkan jauh sebeiumya, saya pernah bermimpi saudara saya meninggal, esok harinya benar-benar terjadi. Umumnya, seseorang yang bermimpi sekitar pukul 2.00 pagi hingga menjelang Subuh, biasanya akan menjadi kenyataan. Karena pada saat itu, bukan sekedar mimpi tapi sebuah firasat yang sangat kuat.

Setelah mimpi yang pertama, kegelisahan saya semakin bertambah ketika saya mendengar adzan Subuh berkumandang. Saya merasakan keanehan. Setiap kail saya mendengar adzan Subuh, pasti saya terbangun dan tidur saya. Padahal, sebelumnya saya selalu bangun agak siang, saat matahari mulai meninggi.

Untuk-kedua kalinya, saya lagi-lagi bermimpi, seseorang berlutut (bersujud) dengan mengenakan sorban putih. Kemudian orang itu berdoa: "Semoga kamu meraih kebahagiaan di dunia yang sekarang dan kebahagiaan di akhirat kelak."

Setelah mimpi berturut-turut, saya tak kuat menyimpannya sendiri. Saya menceritakannya kepada suami saya. Suami saya agak surprise dan mendengarnya dengan penuh perhatian. Akhirnya, tahun 2004, saya memutuskan untuk masuk Islam. Saya diislamkan dr sebuah pulau terpencil di luar Jawa. Sejak saya menjadi Muslimah, saya berganti nama menjadi Siti Masitoh.

Saya teringat, ketika pertama kali shalat, hati saya terasa bergetar. Apalagi jika ayat-ayat Tuhan diperdengarkan, hati saya pun semakin bertambah bergetar. Masa transisi dari Kristen menuju Islam, saya rasakan ujian yang sangat berat Di samping berpisah dengan keluarga, silaturahim terputus, saya juga mendapat kesulitan ekonomi. Hingga suatu malam, saya memohon dan bermunajat kepada Allah, agar Allah memberi kemudahan dan menguatkan kesabaran saya. Alhasil, doa saya langsung dijawab Allah, betul-betul instan. Sebagai seorang guru, saya belum menerima gaji bulan. Padahal, uang saya ketika itu tinggal Rp. 15,000, sementara tanggal 30 masih jauh. Mengandalkan suami, tentu tidak mungkin, mengingat suami saya berprofesi sebagai wiraswasta kecil-kecilan.

Begitu saya shalat Tahajud dan bermunajat kepada Allah dengan penuh kesungguhan, tanpa diduga saya menerima telepon dari teman segereja saya dulu yang sedang berada di Arab Saudi untuk mentransfer uang sebesar Rp 1 juta. Saat itu, saya bertambah yakin, Allah sungguh Maha Hidup. Dia tahu kegelisahan dan penderitaan hambaNya. Padahai kawan saya itu belum tahu, bahwa saya sudah menjadi seorang Muslimah.

Pasrah pada Allah

Setahun berjalan menjadi Muslimah, saya sering mengenang dosa-dosa yang telah saya perbuat di masa lalu. Dalam kesendirian, di tengah malam yang sunyi, jiwa saya merintih, air mata ini tak mampu lagi saya bendung. Sedih, kalau saya ingat bahwa saya dulu bukan orang baik, apalagi sempat mengkristen beberapa orang Islam. Ingin sekali, saya menebus dosa-dosa saya, meski saya harus memulai hidup ini dari nol lagi. Apa pun yang terjadi, saya serahkan seluruh hidup saya kepada Allah. Saya hanya ingin mendapat ampunan dan ridhaNya.

Terakhir, saya ingat, saya sempat pamit pada ibu saya. Terus terang, hanya ibu yang tahu dengan keislaman saya. Sementara saudara-saudara saya yang lain belum mengetahui. Sejak saya menikah, hubungan saya dengan saudara-saudara yang lain terputus. Saya memang berusaha menyembunyikan keislaman saya. Saya khawatir dengan keselamatan diri saya dan keluarga saya. Karena saya tahu, keluarga dari pihak kakak-kakak saya adalah orang-orang keras. Mereka tidak segan-segan mendecerai saya, kalau tahu saya memeluk Islam. Tapi, bagi saya, kebenaran itu harus diungkapkan, jangan disembunyikan. Hanya Allah Ian, sebaik-baik Pelindung.

Banyak hal yang saya dapatkan setelah masuk Islam. Selain rasa ketenangan, saya juga menilai Islam adalah agama yang mengutamakan disiplin. Setiap saya bangun malam untuk shaiat Tahajud, saya merasa dekat dengan Tuhan. Terlebih, saat Subuh, saya selalu berjamaah dengan suami. Kemantapan iman saya semakin kokoh, ketika saya mengikuti workshop ESQ pimpinan Ary Ginanjar. Dengan pelatihan itu, iman saya seperti di-ces kembali. (amanahonline)

Dr. Abdul Karim Germanus (Guru Besar Orientalis Asal Hongaria)


al-islahonline.com : Dr. Abdul Karim Germanus adalah seorang terkenal dari Honggaria, dan orientalis saintis terkenal di dunia. Beliau datang di India antara perang dunia pertama dan kedua dan beberapa waktu lamanya memberi kuliah di Tagor’s University Shanty Naketan. Akhirnya beliau memberi kuliah pada Jamia Millie Delhi dan disanalah beliau masuk Islam. Dr. Abdul Karim Germanus juga seorang ahli bahasa dan mengusai bahasa tueki dan kesusteraanya. Melalui penyelidikan-penyelidikan ketimurannya itulah beliau akhirnya masuk Islam. Dr. Abdul Karim Germanus juga bekerja sebagai professor dan kepala bagian ketimuran dan ilmu-ilmu keislaman pada Budapest University, Honggaria.

Gambaritu telah menangkap daya khayal saya, karena keadaanya berbeda dengan yang biasa kita lihat di Eropa, sebuah pemandangan di tanah timur, di sebuah tempat di negeri Arab yang menggambarkan seseorang yang sedang menceritakan beberapa hikayat yang menarik bagi sekumpulan pendengar yang mengenakan jubah berkurudung. Gambar itu seakan-akan berbicara, hingga saya seakan-akan mendengar suara seorang laki-laki yang menghibur diri saya dengan ceritanya, dan saya seakan-akan termasuk salah seorang dari orang Arab yang mendengarkan di atas bangunan itu. Padahal saya pelajar yang belum melebihi umur16 tahun dan sedang duduk diatas kursi Honggaria. Saya sangat berhasrat untuk mengetahui arti cahaya yang memecah kegelapan di atas papan ukiran itu.

Mulailah saya belajar belajar bahasa Turki. Namun, ternyata bahasa Turki tertulis itu hanya mencakup sedikit kata-kata Turki. Syair Turki penuh dengan bunga-bunga bahasa Parsi, sedangkan prosesnya terdiri dari unsur bahasa Arab. Oleh karena itu, saya berusaha memahami ketiga bahasa itu sehingga saya mampu menyelami dunia kerohanian yang telah memancarkan cahaya yang gemerlapan di atas persada alam kemanusiaan.

Pada waktu liburan musim panas, saya pergi ke Bosnia, suatu negeri Timur yag terdekat dari negeri saya. Saya tinggal di sebuah hotel. Dari sana saya dapat pergi untuk menyaksikan kenyataan hidup kaum muslimin di negeri itu. Bahasa Turki mereka menyulitkan saya, karena saya mulai mengetahuinya dari celah-celah tulisan Arab dalam kitab-kitab ilmu nahwu(Grammar).

Pada suatu malam, saya turun ke jalan-jalan yang diterangi lampu remang- remang. Saya lalu sampai di sebuah warung kopi sederhana, di mana dua orang pribumi sedang duduk-duduk di atas kursi yang agak tinggi sambil memegang kayf. Kedua orang itu mengenakan celana adat yang agak lebar dan di tengahnya diikat dengan sebuah sabuk lebar yang diselipi sebuah golok, sehingga dengan pakaian yang aneh seperti itu mereka tampak galak dan kasar. Dengan hati yang berdebar-debar saya masuk di dalam “Kahwekhame” itu dan duduk bersandar dalam si sudut ruangan. Kedua orang itu melihat kepada saya dengan pandangan yang aneh. Ketika itu terlihatlah kepada saya cerita-cerita pertumpahan darah yanga saya baca dalam buku yang berisi kefanatikan kaum muslimin. Mereka berbisik-bisik, dan apa yang mereka bisikkan itu, jelas tentang kehadiran saya yang mungkin tidak mereka inginkan. Bayangan kekanak-kanakan saya menunjukkan akan terjadinya tindakan kekerasan, kedua orang itu pasti akan menancapkan goloknya ke dada saya yang kafir ini. Kalau bisa saya ingin keluar dari tempat ini dan bebas dari ketakutan, akan tetapi badan saya menjadi lemas dan tidak bisa bergerak.

Beberapa saat kemudian, seorang pelayang datang dan menghidangkan secangkir kopi yang harum sambil menoleh kepada kedua orang yang menakutkan itu. Saya pun menoleh kepada mereka dengan muka ketakutan, akan tetapi ternyata mereka mengucapakan salam kepada saya dengan suara yang ramah sambil tersenyum tipis. Dengan sikap yang ragu-ragu saya mencoba berpura-pura tersenyum, dan kedua orang “musuh”itu pun berdiri mendekati saya, sehingga jantung saya berdebar lebih keras, membayangkan kemungkinan orang-orang itu akan mengusir saya, akan tetapi ternyata kedua orang itu mengucapkan salam kepada saya kedua kalinya, dan mereka duduk didekat saya. Seorang diantaranya menyodorkan rokok kepada saya dan sekalian menyulutkannya, ternyata dibalik sisi lahirnya yang kasar dan menakutkan itu terdapat jiwa yang mulia. Saya mengumpulkan kembali keberanian saya dan saya bercerita kepada mereka dengan bahasa Turki yang patah-patah, kata-kata saya itu ternyata menarik perhatian mereka dan tampak dalam kehidupan mereka jiwa persahabatan dan cinta kasih. Kedua orang itu mengundang saya agar berkunjung ke rumah mereka, kebalikan dari permusuhan yang saya duga semula. Mereka menunjukkan kasih sayang kepada saya kebalikan dari menancapkan golok di dada saya yang saya bayangkan semula.

Itulah perjumpan saya yang pertama dengan kaum muslimin.

Beberapa tahun telah lewat dalam hidup saya yang penuh dengan perjalanan dan studi. Semua itu membuka mata saya kearah pandangan baru yang menakjubkan .

Saya berkunjung ke semua negeri di Eropa mengikuti kuliah di Universitas Istambul, menikmati keindahan bersejarah Asia kecil dan Syiria, belajar bahasa Turki, Persia dan Arab serta mengikuti kuliah dan ilmu ilmu keislaman Universitas Budapest. Segala ilmu pengetahuan yang tersimpan dalam buku-buku abad lampau saya baca dengan pandangan kritis, dan jiwa yang kehausan. Pada buku-buku itu saya menemukan titik-titik terang tentang berbagai lapangan ilmu pengetahuan. Saya merasakan kenikmatan bernaung di bawah kehidupan beragama. Otak saya menjadi beku, akan tetapi jiwa saya tetap kehausan. Karena itu saya mencoba melepaskan diri dari segala ilmu pengetahuan yang selama ini saya kumpulkan, agar saya dapat kembali bebas dari segala kotoran dalam semangat mencari kebenaran. Bagaikan besi mentah yang menjadi baja yang keras dengan cara dilebur dan diberi temperatur rendah secara tiba-tiba.

Pada suatu malam saya bermimpi, seakan-akan Muhammad Rasulullah saw.dengan jenggotnya yang panjang berwarna henna, jubahnya yang besar dan rapi menyebarkan bau wangi harum dan semerbak dan cahaya kedua belah matanya mengkilat penuh wibawa itu tertuju kepada saya. Dengan suara lemah lembut, beliau bertanya kepada saya,”Kenapa engkau bingung? Sebenarnya jalan yang lurus telah terbentang dihadapanmu, amat terbentang bagaikan permukaan bumi. Berjalanlah diatasnya dengan langkah yang mantap dan dengan kekuatan iman.”

Dalam mimpi ajaib ini, saya menjawab dengan bahasa arab, “Ya Rasulullah! Memang itu mudah buat Tuan, Tuan adalah perkasa. Tuan dapat menundukkan setiap lawan pada waktu Tuan memulai perjalanan Tuan dengan bimbingan dan pertolongan Allah. Bagi saya tetap sulit. Siapakah yang tahu kapan saya dapat menemukan ketenangan?”

Beliau menatap tajam kepada saya dengan penuh pengertian. Sejenak beliau berfikir, kemudian bersabda dengan bahasa Arab yang jelas, yang setiap katanya berdentang bagai suara lonceng perak. Dengan lisannya yang mulia yang mengemban perintah Allah itu meresap kedalam jiwa saya, beliau membacakan ayat ke-6 sampai dengan ke-9 surat An Naba’ yang artinya “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan? dan gunung-gunung sebagai pasak?dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan,dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”

Dalam kepeningan, saya berkata, “Saya tidak bisa tidur. Saya mampu menembus segala misteri yang meliputi segala rahasia yang tebal ini. Tolonglah saya Muhammad! Tolonglah saya Rasulullah!” Begitulah yang keluar dari kerongkongan saya, suara teriakan yang terputus-putus, seakan-akan saya tercekik dengan beban yang berat ini. Saya takut kalau Rasulullah saw. marah kepada saya. Kemudian saya merasa terjatuh kesebuah tempat yang amat dalam. Tiba-tiba terbangunlah saya dari mimpi itu dengan badan bercucuran keringat yang hampir-hampir bercampur darah. Seluruh anggota badan terasa sakit. Saya menjadi sangat sedih dan suka menyendiri.

Pada hari Jumat berikutnya terjadilah sebuah peristiwa besar dalam masjid Jami’ New Delhi. Seorang asing berwajah lesu dan rambut beruban menerobos masuk disertai beberapa orang pemuda di antara jemaah yang beriman. Saya mengenakan pakaian India dan berkopiah rampuri, sedangkan di dada saya tertampang medali-medali Turki yang telah dianugerahkan oleh para sultan Turki terdahulu kepada saya. Kaum muslimin dalam masjid itu melihat saya dengan keheranan. Rombongan saya mengambil tempat di dekat mimbar, tempat para ulama dan para terkemuka duduk. Mereka mengucapkan salam kepada saya dengan suara yang tinggi melengking.

Saya duduk didekat mimbar yang penuh perhiasan, sedangkan tiang-tiang di dekat masjid penuh dengan sarang laba-laba. Terdengarlah suara azan dan para mukabbir berdiri di berbagai tempat untuk meneruskan suara azan ketempat sejauh yang mungkin dicapainya. Selesai adzan, berdirilah orang-orang yang jumlahnya hampir empat ribu untuk salat, sekan akan barisan tentara memenuhi seruan Allah dengan berjajar rapat, tekun dan khusuk. Saya sendiri termasuk salah seorang yang khusuk itu. Kejadian itu sungguh merupakan momentum yang agung.

Selesai salat, Abdul Hay memegang tangan saya untuk berdiri di muka mimbar. Saya berjalan hati-hati agar tidak menyentuh orang yang duduk berbaris. Waktu peristiwa besar sudah dekat. Saya berdiri dekat mimbar lalu berjalan di antara orang banyak yang saya lihat berupa beribu-ribu kepala bersorban, seakan-akan kebun bunga. Mereka melihat dengan penuh perhatian kepada saya. Saya berdiri dikelilingi para ulama dengan jenggot yang kelabu dan penglihatan yang memberi kekuatan. Lalu mereka mengumumkan tentang diri saya, satu hal yang tidak dijanjikan sebelumnya. Tanpa ragu-ragu saya naik ke mimbar sampai tangga yang ke tujuh, lalu saya menghadap kepada orang banyak yang seakan-akan tidak ada ujungnya dan seperti lautan yang berombak. Semua punduk merunduk kepada saya, di halaman masjid semua orang bergerak. Saya mendengar orang yang dekat kepada saya berkali-kali mengucapkan maasya Allah disertai pandangan yang memancarkan rasa cinta kasih. Kemudian mulailah saya berbicara dalam bahasa Arab.

“Tuan-tuan yang terhormat, saya datang dari negeri yang jauh untuk mencari ilmu yang tidak bisa didapat di negeri saya, saya datang untuk memenuhi hasrat jiwa saya dan tuan-tuan telah mengabulkan harapan saya itu.”

Lalu saya berbicara tentang peredaran zaman yang dialami oleh Islam dalam sejarah dunia dan tentang beberapa mukjizat yang Allah gunakan untuk memperkuat Rasul-Nya saw.. Saya juga kemukakan tentang keterbelakangan kaum muslimin pada zaman akhir-akhir ini, tentang cara-cara yang mungkin bisa mengembalikan kebesaran yang telah hilang dan tentang adanya sebagian orang Islam yang mengatakan bahwa segala sesuatu sepenuhnya tergantung kepada kehendak Allah SWT, padahal Allah telah berfirman dalam Al Qur’anul karim, “Sesungguhnya Allah tidak merubah suatu kaum sehingga mereka sendiri mau mengubah keadaan dirinya.”

Saya memusatkan pembicaraan saya kepada persoalan ini dengan mengemukakan ayat-ayat kitabullah. Kemudian tentang peningkatan hidup yang sici atau taqwa dan perlunya memerangi perbuatan dosa.

Seusai berbicara, saya pun duduk istirahat. Saya berbicara dengan penuh perasaan, dan saya dengar orang-orang di seluruh pelosok masjid berteriak “Allahu Akbar!!!” Terasalah pengaruh dan semangatnya yang merata ke seluruh tempat, dan saya tidak bisa mengingat-ingat lagi apa yang kemudian terjadi, selain di atas mimbar, Aslam memanggil dan memegang pergelangan tangan saya keluar dari masjid.

Saya bertanya kepadanya, “Mengapa terburu-buru?” Orang-orang berdiri dan memeluk saya. Berapa banyak orang miskin yang melihat dengan mata sayu kepada saya, meminta doa restu dan mereka ingin dapat mencium kepala saya. Saya berseru kapada Allah supaya tidak membiarkan jiwa-jiwa yang tidak berdosa ini melihat kepada saya seakan -akan saya berderajat lebih tinggi daripada mereka. Padahal saya tidak lebih dari salah satu binatang yang melata di bumi, atau seorang yang lain. Saya merasa malu menghadapi harapan orang- orang suci itu, dan saya merasa seakan-akan telah menipu mereka. Alangkah beratnya beban yang menupuk pada bahu penguasa dan sultan. Orang yang menaruh kepercayaan dan minta pertolongan kepadanya dengan perkiraan bahwa penguasa itu dapat mengerjakan apa yang mereka sendiri tidak mampu.

Aslam mengeluarkan saya dari kerumunan dan pelukan saudara-saudara saya yang baru, dan mendudukkan saya pada sebuah tonga (kendaraan roda dua di India) dan membawa saya pulang. Pada hari-hari berikutnya, orang berbondong-bondong menemui saya untuk menunjukkan suka cita, dan saya merasakan kecintaan dan kebaikan mereka cukup menjadi bekal selama hidup saya.

Sumber: Limaa Dzaa Aslamnaa? Rabithah Alam Islamy Makkah al-Mukarramah
(Buku Limaa Dzaa Aslamnaa? oleh Rabithah Alam Islamy Makkah al-Mukarramah telah diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Cahaya Press, Jln. F, No. 46, Cip. Muara, Kalimalang, telp. (021)8580649, Fax. (021)85909667, Jakarta Timur 13420, PO BOX 7837 JAT CC 13340, dengan judul Islam Pilihan Kami: Kisah Para Tokoh dan Ilmuwan Dunia Mendapat Hidayah)

Mualaf Steven Longden Kaget Temukan Fakta: Kakek Buyutnya adalah Walikota Muslim Pertama


MANCHESTER - Seperti banyak orang, Steven Longden mengaku identitasnya beragam, baik dalam keluarga, lingkungan, daerah, afiliasi keagamaan, pendidikan, dan hingga etnis. Namun ia kini mengaku bahagia, karena ia kini memiliki "kacamata" untuk memandangnya: keimanannya. "Budaya Islam memainkan peran penting dalam kehidupan saya sekarang," katanya.

Menjadi eksklusif? Steven menggeleng. "Iman saya tidak mengharuskan saya untuk menghindari yang terbaik dari pengaruh budaya lain yang penting dalam hidup saya. Jadi, sebagai seorang mantan Kristen saya dapat bersukacita dalam persahabatan yang saya buat pada tahun-tahun sebelum saya menjadi Muslim," katanya.

Bahkan, ia masih datang ke gereja untuk acara-acara non-agama: pernikahan, merayakan pembaptisan anak seorang kenalan, berpidato saat pelepasan jenazah neneknya yang meninggal. "Saya diterima, dihargai sebagai Muslim, diakui sebagai orang beriman dalam Tuhan," katanya.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan belajar bahwa mualaf kerap efektif menjembatani kesenjangan antara teman dan komunitas agama yang berbeda. "Banyak dari kita telah mengembangkan wawasan multikultural dan empati lah yang membantu untuk membawa pemahaman dan kepercayaan antara orang-orang di sekitar kita," katanya.

Ia betul-betul lahir dalam keluarga multilatar belakang. Ia berdarah Inggris, tapi besar di Afrika Timur. Sehari-hari, ia berbahasa Urdu, Swahili, dan Inggris.

Melanjutkan pendidikan ke Inggris, ia menikah dengan gadis kulit putih kelahiran Manchester.

Perjalanan spiritual lah yang menyebabkan pasangan muda ini mengenal Islam. Lama mempelajari, ia yakin Islamlah yang dicarinya. Ia bersyahadat. beruntung, keluarga besarnya mendukung, walau mereka tetap pada keyakinan mereka.

Ia mengakui, menjadi seorang Muslim tidak mudah. "Tapi Alquran memang menyebut, setiap kita pasti akan diuji," katanya.

Ia bukan tak merasakan dampak serangan 11 September yang membuat kaum Muslim menjadi bulan-bulanan di seluruh dunia. Namun ia menjalani dengan sabar. "Tapi di luar itu, setelah menganut islam saya merasakan kedamaian, terpesona dan sadar bahwa sebagai seorang Muslim di Inggris, saya merasa sebagai orang paling istimewa di dunia saat ini," katanya.

Lebih bahagia lagi, katanya, saat suatu hari sang ayah memberitahunya, kakek buyutnya adalah seorang Muslim, 92 tahun lalu. Ia menjadi Muslim pada tahun 1898, tepat pada usia 70 tahun. Ia bernama Robert Reschid Longden, kulit putih generasi pertama yang menganut Islam.

Dibesarkan dalam sekte Israel Kristen, dia naik menjadi Walikota Stalybridge pada tahun 1875. Pada 1850 dia menjadi tertarik pada urusan Kekaisaran Ottoman, yang tidak diragukan lagi, membimbingnya di jalan menuju Islam. Pada 1901 ia menjadi tangan kanan mufti Inggris, Syaikh Abdullah Quilliam, dan terlibat dalam beberapa dialog antaragama pertama di Manchester.

"Penemuan ini mengejutkan dan menempatkan konversi saya ke dalam perspektif dan telah telah menjadi sumber kebanggaan dan kenyamanan bagi keluarga saya, baik Muslim dan non-Muslim, dan masyarakat yang lebih luas. Memang, tidak akan menjadi kejutan bagi Anda, tapi ini sesuatu yang luar biasa bagi saya," ujarnya. Ada nada haru dalam ucapannya...

Sumber: being.publicradio.org, Republika

Surat Terbuka Mualaf Jennifer Jeffries Tentang Makna Menjadi Muslim


NEW HAMSPIRE - Jennifer Jeffries adalah seorang dokter. Dia memutuskan menjadi Muslim di usia dewasa. Berikut ini surat terbukanya seperti yang dimuat di situs being.publicradio.org:

Saya adalah Muslim yang kembali; bersyahadat, masuk Islam. Saya kini tinggal di New Hampshire, sebuah kota dengan 99 persen berkulit putih, seperti saya. Sebagian besar adalah Protestan.

Masa kecil saya dihabiskan di Manchester, yang dulu kental dengan tradisi Katolik. Namun seiring waktu, kota ini menjadi kota multietnis dan agama; tak hanya Katolik, tapi juga Ortodoks, Kristen Protestan dari semua denominasi, Muslim, Yahudi, juga Budha.

Orang-orang pergi ke masjid di hari Jumat. Mereka datang dari Bosnia, Sudan, Somalia, Irak, Pakistan, Indonesia, India, Suriah, dan negara-negara lain. Saya melihat dua "versi" Muslim; mereka yang tertutup rapat, bahkan dengan cadar, dan Muslim yang masih minum dan merokok.

Sebagai seorang mualaf, pengalaman saya diwarnai oleh kehidupan saya sendiri sebagai seorang wanita terpelajar dari kota kecil di New England - dan dengan perjalanan rohani saya sendiri yang dimulai dari Protestantisme.

Menjadi Muslim berarti bagi saya mencari sebuah kedamaian batin melalui penerimaan struktural yang lembut dan konsisten bahwa saya kembali kepada Allah, fokus yang lebih besar dari keberadaan saya. Memakai jilbab mengingatkan saya untuk mempertimbangkan tindakan saya dari perspektif Islam; memuji Tuhan sepanjang hari mengingatkan saya untuk berpikir tentang banyak hadiah saya terima, termasuk karunia pelajaran, bahkan ketika mereka mungkin memiliki aspek-aspek yang tidak menyenangkan pada saat itu.

Sebagai seorang mualaf, saya datang pada Islam secara intens dan sengaja, mencerna tidak seperti yang saya mencerna Kristen sebagai seorang anak, tetapi lebih sebagai orang dewasa. Mempertanyakan dan merenungkan rincian dan implikasi yang tidak jelas bagi saya dalam pengalaman masa kecil saya; Allah. Sebagai seorang mualaf, menjadi Muslim berarti terus-menerus belajar dan bertanya: apa yang harus saya percaya? Apa yang Islam percaya? Apa yang Muslim percaya?

Menjadi Muslim, adalah perjalanan batin yang dahsyat bagi saya. Suara azan, kini terdengar bagaikan himne yang indah bagi saya. Berdiri di shaf perempuan untuk shalat berjamaah sungguh membuat merasa sama dan indah. Meluangkan waktu sepanjang hari untuk berhenti dan berpikir tentang Tuhan sebanyak lima kali memberi saya perspektif tentang betapa relatifnya kesulitan pekerjaan saya. Menghafal ayat Alquran dan mengulangnya kembali dalam salat memungkinkan saya untuk memikirkan kembali prinsip-prinsip agama dasar, dan bagaimana menerapkannya dalam hidup saya sekarang. Berdiri tegak, membungkuk, membungkuk rendah mengingatkan saya pada salam yang saya pelajari dalam yoga. Namun sungguh indah ketika menggunakan tubuh saya untuk memuji Tuhan, mengisi pengalaman saya sebagai bagian dari dunia Tuhan.

Saya juga menjadi lebih menghargai kehidupan. Menuju peternakan, mengambil domba dan menyembelihnya secara halal, mengingatkan saya pada berharganya hidup dan karunia ang memungkinkan daging untuk tiba di meja makan saya. Saya menyadari di bulan Ramadan bahwa saya bisa menghindari makanan dan minuman dari fajar sampai senja. Hal ini mengingatkan saya pada penderitaan orang lain, dan pentingnya mengendalikan tanggapan pribadi saya sendiri atas aneka kesulitan saya.

Dalam masyarakat multikultural, saya telah memiliki banyak pertanyaan tentang apa budaya dan agama yang berbeda. Juga aneka pendapat yang berbeda.

Feminisme di AS telah membuat menjadi dokter menjadi lebih mudah bagi saya daripada untuk ibu saya 30 tahun sebelumnya.
Aku melihat feminisme dengan sudut pandang yang sangat berbeda dalam perspektif Islam.

Islam mencatat bahwa suami dan istri adalah bagian yang sama. Jenis kelamin melengkapi satu sama lain, tidak meniru atau bersaing satu sama lain. Islam mendudukkan laki-laki dan perempuan dengan hak dan kewajiban yang sepadan.

Saya berharap banyak pada komunitas Muslim untuk tidak melihat dunia luar sebagai ancaman, untuk tidak melihat dirinya sebagai lebih dari korban, untuk melihat komunitas yang lebih besar sebagai saudara, bukan saingan. Saya berharap kita akan bekerja untuk memahami perspektif satu sama lain, dan memahami bagaimana perspektif kita sendiri berdampak pada orang lain. Saya meyakinkan untuk melihat kelompok-kelompok antar agama dalam komunitas saya berkumpul untuk belajar lebih banyak tentang satu sama lain, dan mengeksplorasi persamaan dan perbedaan kita bersama-sama. Saya harap saya komunitas Muslim adalah merasa menjadi bagian dari masyarakat yang prural.

Kisah Mualaf korbankan segalanya untuk islam

Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.

Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist–aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran.

Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.

Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya.

Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ”Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!” ujarnya kala itu.

Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana dibalik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya.

“Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.”

Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi. Ia pun melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat.

Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. ”Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.”

Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah. Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja yang taat itu menyatakan, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.”

Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.

Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya.

Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak. ”Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,” kenangnya.

Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya. ”Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.” Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.

Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai menghargai pilihan hidupnya.

Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.

”Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!”

Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah. Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.

Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. ”Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?” tanya ibunya lagi.

Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. Ibunya lantas berkata, ”OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,” pesan ibunya. Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.

Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi muslim.

Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.

Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan. Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah. Demikian seperti dilansir situs Republika Online.

Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS. Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas.

”Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah.”

Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.